TPA Burangkeng Dorong Masyarakat dan Komunitas Olah Sampah dengan Pendekatan 3R

  • Whatsapp

KORAN SIDAK – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi diharapkan bisa menjadi salah satu contoh pengelolaan sampah yang baik secara teknologi, kelembagaan, maupun operasionalnya.

Selain itu, bisa didesain untuk dapat digunakan sebagai sumber penghasil Kompos dan bisa juga penghasil energi melalui pengembangan nantinya, kalau ada anggaran yang dianggarkan pemkab Bekasi.

Bacaan Lainnya

Kepala UPTD TPA Burangkeng, Maulana mengatakan, salah satunya adalah merehabilitasi Tempat Pemrosesan Akhir
Rehabilitasi TPA Burangkeng dilakukan sejak Desember 2019 dan telah diselesaikan akhir thn 2020.

“Rehabilitasi TPA Burangkeng dilakukan dengan menerapkan sistem control landfill dari sebelumnya hanya sebagai tempat pembuangan saja tanpa pengolahan (open dumping),” ujarnya.

Dengan metode control landfill, lanjut dia, sampah dibuang dan ditumpuk di lokasi Burangkeng, dipadatkan dan kemudian ditimbun dengan tanah, sehingga tidak menimbulkan bau busuk, serta mencegah berkembangnya bibit penyakit serta ramah lingkungan.

Menurutnya, luas TPA Burangkeng sekitar 11 hektar serta ketinggian tumpukan sampah yang ditata letaknya 7 – 25 meter setiap tumpukan dengan alat berat dozer 6 unit serta eksavator 14 unit, maka total massa sampah yang bisa ditampung setiap hari dari 23 Kecamatan adalah 700 ton per hari.

Menggunakan cover soil dan unit pengolahan lindi (UPL) yang dapat mengolah air busuk dari sampah agar tidak mencemari tanah, mendorong masyarakat dan komunitas untuk dapat mengolah sampah dengan pendekatan 3R (reuse, recycling dan reduce), sehingga sampah mengalami reduksi sekitar 35% atau sampah yang sampai ke TPA hanya 65% dari volume sampah yang mencapai 700 ton /hari.

“Oleh karenanya dibangun unit pengolahan sampah menjadi kompos yang dilakukan oleh masyarakat sekitar, kolaborasi denganTPA Burangkeng,” pungkasnya.

Pos terkait