Modernisasi Pengelolaan TPST Bantargebang Menuju Eco Industrial Prak

  • Whatsapp

Oleh : Bagong Suyoto
Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas) Sekretaris Jenderal Perkumpulan Gerakan Aksi Persampahan Indonesia (GAPINDO) – Dewan Pembina KAWALI Indonesia Lestari

KORAN SIDAK – Suatu hari nanti dapat diwujudkan pengelolaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang modern, canggih dan saniter. TPST Bantargebang sebagai pabrik besar pengolahan sampah modern, canggih, sebagai pusat penelitian dan ekowisata. Selanjutnya menjadi “Eco-Industrial Park TPST Bantargebang”. Karena TPST seluas 110,3 hektar yang menampung sampah sekitar 7.500-7.800 ton/hari menjadi perhatian nasional dan internasional.

Baca Juga :

TPST Bantargebang tampak semakin indah dengan adanya pembangunan dan perbaikan berbagai sarana dan parasana. Berbagai fasilitas, seperti kantor administrasi dipermodern, dengan nuansa eco-office. Gedung berlantai tiga didesain transparan, dengan jendela lebar serba kaca. Sehingga dapat melihat panorama sekitar.

Reformasi tata kelola administrasi personalia, administrasi kantor dan sarana pendukung pun dimodernisasikan, seperti absen finger print, CCTV, pegajian sistem online, pelaporan sistem online, pemberian seragam kerja, penyediaan standar operasional prosedur (SOP) kerja, dll. Guna meningkatkan kapasitas human resourse dilakukan berbagai pendidikan dan pelatihan berkaitan dengan pengelolaan sampah dan lingkungan, kesehatan lingkungan serta keamanan. Semua bagian dari organization development (OD). OD tersebut merespon dan mengakomodasi perubahan modern yang cepat dan sarat digital.

OD tersebut juga berfungsi sebagai bagian pengawasn internal pegawai, pendisiplinan pegawai dan memberikan kebanggaan dan keyamanan pegawai. Kini para pegawai TPST Bantargebang sangat bangga dengan seragam dan eksistensinya. Mereka diberi salary, gaji sangat layak sesuai dengan upah minimum daerah. Ini bagian dari penghargaan hak asasi manusia (HAM). Sudah sepantasnya mereka yang bekerja bersentuhan dengan sampah mendapatkan upah dan penghargaan layak. Pegawai juga diberikan BPJS Ketenagakerjaan.

Mereka yang bekerja dan bergelut dengan sampah harus mendapat jaminan pendapatan, jaminan kesehatan dan jaminan keamanan. Manajemen TPST Bantargebang menerapkan sejak beberapa tahun lalu. Jumlah human resours TPST yang jumlahnya lebih 800 orang sebagian besar harus diarahkan untuk menjalankan pengolahan sampah dengan berbagai pendekatan, strategi dan teknologi.

Jumlah timbulan sampah yang sangat besar setiap hari di TPST Bantargebang membutuhkan proven-technology skala besar. TPST harus punya beberapa plant pengolahan sampah skala besar, seperti composting, recycling, Refuse Derived Fuel (RDF), gasifikasi, insinerasi, plasma gasifikasi. Tujuannya untuk mengolah dan mengembalikan sampah menjadi sumber daya ekonomis. Kuncinya pada proven-technology yang mampu mengolah dan mereduksi skala besar. Misal kemampuan reduksi, 80-90%. Juga didukung oleh human resources yang ahli, terampil dan disiplin tinggi. Guna menyambut plank Hari Peduli Sampah Nasional 2021: Sampah Bahan Baku Ekonomi di Masa Pendemi. Sesuai mandate UU No. 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, PP No. 81/2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, dan aturan terkait.

Bagian belakang dan samping kantor TPST ada taman, kolam atau embung dan ditanami sejumlah tanaman hias dan pepohonan. Taman tersebut bagian dari ruang terbuka hijau (RTH). TPST membutuhkan RTH yang cukup.

Realisasi RTH dan Greenbelt TPST Bantargebang. Penghijauan (greeing) sekeliling TPST Bantargebang setebal 5 meter merupakan kewajiban yang harus dilakukan Pempro DKI Jakarta. Dalam perjanjian perubahan tahun 2016 kewajiban membuat bufferzone/greenbelt disebutkan dengan sangat jelas.

Dalam Amdal TPST Bantargebang tahun 2010, khususnya yang tertuang dalam RKL Kegiatan Pembangunan TPST Bantargebang disebutkan sebagai berikut: Pertama, menyediakan ruang terbuka hijau (RTH) seluas ± 11. 270 m² sebagai Green Boundary (pagar hijau pelindung). Perencanaan Green Boundary harus mempunyai fungsi menciptakan suasana segar, sejuk dan tenang untuk mereduksi gas polutan, bau dan suasana bising pada saat TPST beroperasi.

Kedua, jenis tanaman yang akan ditanam di area TPST adalah tanaman yang memiliki fungsi ekologis berupa: Mahoni dan lamtoro untuk menyerap genangan air, Cemara laut (Casuarina sp) dan bunga kupu-kupu untuk menyerap SO2, Damar, asem londo dan mahoni untuk menyerap Pb, Cemara kipas, kersen dan sawo kecik untuk menyerap partikel padat, Cempaka, tanjung (Mimusops elengi), damar, bambu, dan kenanga untuk menyerap bau busuk, Bambu, kendondong, cemara laut dan cemara kipas untuk menurunkan kebisingan.

Adapun tanaman hias yang rencananya akan ditanam di area tanam antara lain; kembang kertas (Bougenvilea sp), soka (Ixora Coccinea), hanjuang (Dracaean deremensis), palem kuning (Chrysalidocarpus lutescens), teh-tehan hijau (Acalypha siamensis), sambang dara (Hemigraphis alternata), dan alamanda (Allamaanda cathartica). Pada areal lahan yang berbatasan dengan penduduk, akan ditanami jenis tanaman yang bernilai ekologis (buffer zone), seperti penanaman pohon bambu secara berlapis. Dan melakukan pemeliharaan dengan penyiraman dan pemupukan secara teratur.

Selayaknya target RTH yang tertuang dalam Amdal dan RKL pembangunan TPST Bantargebang dilaksanakan dengan baik dan berkelanjutan. Karena RTH mempunyai fungsi sangat penting dalam penggantian udara dan menjadi paru-paru TPST Bantargebang.

Program dan kegiatan ini bagian dari perlindungan dan pemulihan lingkungan yang harus dilakukan, sebagai berikut: (1) Melakukan kajian berapa luasan RTH yang ideal dengan perbandingan luasan lahan TPST Bantargebang? (2) Menetapkan jenis-jenis pepohonan yang akan ditanam sedapat mungkin yang mampu menyerap debu dan pencemaran serta tahan terhadap lingkungan sampah. (3) Melakukan perawatan pepohonan, penyulaman, penyiangan gulma, penyiraman pagi sore rutin ketika musim kemarau. (4) Melakukan pengawasan secara ketat terhadap ancaman ternak dan vandalism. (5) Khususnya untuk green-belt melakukan penanaman lebar 5 meter keliling TPST, sebaiknya sebelum ada pepohonan ada saluran air – kemudian tanaman lebar 5 meter keliling-terus ada saluran air dan terakhir pagar arcon/ permanen.

Guna mengendalikan dan mengurangi polusi, salah satu yang menjadi perhatian adalah truk pengangkut sampah. Sejumlah pihak, terutama warga yang dilewati truk sampah mengaluh karena air lindi menetes ke jalan. Oleh karena itu perlu pengurangan truk sampah serta penertiban moda transportasi pengangkutan sampah Jakarta ke TPST Bantargebang. Mengganti truk terbuka dengan truk spesial pengangkut sampah atau compactor sebagai upaya memodernisasi pengangkutan sampah.

Selanjutnya memadukan sistem manajemen transportasi truk compactor dengan manajemen garbage bin/tong sampah modern. Menyediaan alokasi anggaran untuk pembelian truk compactor. Dan melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) management pengangkutan sampah dari Jakarta ke TPST Bantargebang guna melihat transparansi, efesiensi dan efektifitas serta keamanan bagi lingkungan hidup dan kesehatan.

Sejumlah peralatan kerja teknis, seperti alat berat, backhoe, bulldozer, dll TPST Bantargebang jumlahnya ratusan dan sebagian masih baru. Sehingga akan lebih cepat dan memperlancar pekerjaan. Demikian pula didukung operator dan teknis yang handal. Tahun 2020 total alat berat 108 unit terdiri dari Standar excavator 63 unit, long arm excavator 4 unit, bulldozer 26 unit, wheel loader 10 unit, refuse compactor 5 unit.

Pada tahun 2018 kepemilikan alat berat TPST terdiri dari: excavator sebanyak 32 unit; amroll excavator sebanyak 2 unit; bulldozer sebanyak 14 unit; wheel loader sebanyak 6 unit; dan refuse compactor sebanyak 5 unit. Hal itu pernah disampaikan Kepala UPST Bantargebang pada tahun 2017 ketika ada kunjungan Rapid Asessment dari Dewan Pengarah dan Pertimbangan Pengelolaan Sampah Nasional (DP3SN), Direktorat Pengelolaan Sampah KLHK, Koalisi Persampahan Nasional (KPNas), Walhi Jakarta, Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI), dll. Bahkan terus dilakukan penambahan alat berat sesuai kebutuhan.

Semua bertujuan mempercepat perbaikan pengelolaan TPST Bantargebang menjadi “Eco Industrial Park”. Suatu konsep dan pendekatan pengelolaan sampah yang telah dilakukan secara luas di Jepang. Negara-negara maju, seperti Australia, negara-negara Uni Eropa telah mengimplementasikan gagasan-gagasan tersebut yang sangat peduli pada lingkungan hidup dan kesehatan manusia. (ADV)

Pos terkait