APLAN: Ada Mafia Sembako yang Sedang Menari Diatas Kondisi Rakyat

  • Whatsapp
Sembako dari Pemerintah Kota Bekasi (doc.Yessi).

KORAN SIDAK – Aliansi Pemantau Lembaga Negara (APLAN), Abdi Maulana menyampaikan bencana Covid-19 adalah bencana yang tidak pernah diinginkan oleh seluruh umat didunia. Apalagi melihat konstalasi Zona Merah beberapa daerah di Indonesia, salah satunya di Kota Bekasi.

Menurutnya, Covid-19 bukan lagi permasalahan kecil di Kota Bekasi, dan ini seharusnya sudah jadi Fokus utama Walikota selaku penanggung jawab Daerah. Dengan membentuk Tim Bansos Covid-19 Bekasi, adalah satu upaya meringankan rakyat yang terdampak Covid-19.

Bacaan Lainnya

“Satu langkah yang dapat di apresiasikan untuk Bang Pepen (nama tren Walikota Bekasi), kata Abdi kepada koransidak.com, Jum’at (01/05/2020).

Oleh sebab itu, Abdi melihat ada yang menarik di Tim Bansos Covid-19 Kota Bekasi. Merujuk ke Steatment Walikota Bekasi telah menyiapkan Bansos Rp. 200.000 dalam bentuk sembako/KK (sumber : megapolitan.Kompas.Com).

Dan steatment Wakil Walikota ada 130.000 KK yang menerima bantuan sembako akan di bagikan secara bertahap menggunakan dana APBD Kota Bekasi, kata Tri (sumber : Megapolitan.Kompas.com).

Tetapi, Abdi menemukan ada kejanggalan di penyaluran sembako bantuan untuk warga yang terdampak Covid-19. Salah satu warga Perum III, Kelurahan Aren Jaya Bapak Ronald. H mengeluh dengannya saat berpapasan di jalan.

“Bang tadi saya dapat bantuan dari ketua RT saya, bantuan sembako dari Walikota (Pemerintah Kota Bekasi) untuk warga yang terdampak Covid-19. Kemarin itu saya sempat membaca beberapa berita yang beredar, ternyata tidak sesuai dengan apa yang saya terima terkait Bansos Walikota Bekasi,” kata bapak Ronald kepada Abdi.

“Mendengar hal tersebut, saya di ajak ke rumahnya untuk melihat bantuan sembako yang diberikan dan saya sempat terkejut sesampai di rumah bapak Ronald,” ucap Abdi.

Lanjutnya ia mengatakan, bagaimana tidak, bantuan Rp. 200.000/KK dalam bentuk sembako yang disalurkan tidak sesuai dengan yang di terima oleh warga. Mari kita rincikan bersama, sembako yang di terima warga, diantaranya : 1 Pack goriorio (Rp 10.000), 1 liter minyak makan merk tropical (Rp. 15.000), 7 bungkus mie sedap soto (Rp. 17.500), 1 botol kecil kecap manis merk nasional (Rp. 5.000), 1 botol kecil saos merk nasional (Rp. 5.000), 1 kaleng sarden merek payu (Rp. 20.000), Beras 5 Kg merek C4 Raja. ( Rp. 57.000), Total : Rp. 129.500.

“Harga barang tersebut bersumber di warung dekat rumah bapak Ronald. Menduga ada mafia sembako yang sedang menari di atas kondisi rakyat yang tidak baik-baik saja. Bagaimana tidak, terjadi kekurangan Rp. 70.500 per sembako dari nilai Rp. 200.000 per sembako yang disiapkan Pemerintah Kota Bekasi,” ungkap Abdi.

Lebih lanjutnya ia mengatakan, Bila dihitung nilai rupiah kekurangan Rp. 70.500 dikali dengan jumlah 130.000 KK penerima bansos maka kerugian negara dalam satu kali bansos menjadi Rp. 9.165.000.000.

“Bayangkan jika 3 bulan berturut-turut itu dijalankan. Akan terjadi kerugian negara sebesar Rp. 27,495 Milyar,” ujar Abdi.

Dan oleh sebab itu, Abdi selaku pimpinan APLAN meminta Walikota Bekasi agar mengevaluasi tim bansos Covid-19 Kota Bekasi dan mendesak Kejari serta Kapolres Kota Bekasi untuk mengungkap oknum sembako Rp.129.500 sebelum dilakukannya kembali penyaluran bantuan yang akan berakibat fatal.

“Dan apabila terbukti ada oknum yang mengkebiri dana bantuan sembako untuk warga yang terdampak Covid-19 maka harus di hukum mati karna itu bukan manusia dan sejahat-jahatnya manusia, dia masih mempunyai hati nurani tidak sampai mengkebirikan Dana bantuan sembako warga,” tutup Abdi.

Pos terkait