Alhamdulillah, Pelaku Usaha Kecil di Lambangsari Dapat Pinjaman Bergulir

  • Whatsapp

KORAN SIDAK, Bekasi – Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Desa Lambangsari, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jumat (30/07/21) melaksanakan kegiatan pencairan pinjaman bergulir bagi pelaku usaha yang tidak mendapatkan Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) akibat terdampak pandemi.

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Kantor Desa Lambangsari itu dihadiri oleh Kepada Desa (Kades) Lambangsari, Koordinator BKM Lambangsari, Manajemen Keuangan KOTAKU Cluster 1, serta 20 orang penerima manfaat dana yang terbagi dalam 4 kelompok swadaya masyarakat (KSM).

Bacaan Lainnya

Kegiatan pencairan tersebut dibagi dalam dua tahap, yaitu hari ini (Jumat, 30/07/2021) dan tahap dua akan diagendakan kembali.

“Dana bergulir ini sangat membantu menambah modal bagi kami para usaha kecil di tengah pandemi,” ujar Marka wijaya salah satu penerima pinjaman.

Dia mengaku, untuk bisa mendapatkan dana ekonomi bergulir, ternyata perlu perjuangan. Karena menurutnya, harus menggunakan proposal pengajuan juga.

“Yang lebih menarik adalah adanya survei dari para pengurus BKM dan UPK, bahkan fasilitator juga ikut melakukan survei ke lokasi kami. Melakukan pemeriksaan terkait verifikasi data calon peminjam, serta layak tidaknya usaha yang dijalankan oleh calon peminjam. Belum lagi tanda tangannya (guna verifikasi) banyak banget,” tutur dia.

Sementata itu, koordinator BKM Lambangsari, Desa Lambangsari Abdul Rahman berharap dengan adanya bantuan dana bergulir dari UPK ini dapat bermanfaat untuk menambah modal bagi para pelaku usaha yang belum mendapatkan BPUM, meskipun jumlahnya tidak besar.

Kekompakan UPK Desa Lambangsari membuat BKM berusaha keras melakukan pembinaan dan pengarahan dalam rangka memperluas relasi di bidang usaha, baik dari segi pendanaan maupun dari segi pemasaran.

Ditempat yang sama, Fasilitator BKM Lambangsari, Puspita Andiyani, menjelaskan, verifikasi kelayakan calon peminjam dana ekonomi bergulir dilakukan sebagai antisipasi dari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

Jadi kata Puspita, KSM benar-benar dibentuk oleh mereka (pelaku usaha-red) yang membutuhkan dana ekonomi bergulir, serta melalui kesepakatan antar anggota KSM sendiri.

“Supaya mereka sendiri yang mendiskusikan guna menentukan siapa ketua dan bendahara. Maksudnya agar semua bisa berjalan sesuai dengan keperluan mereka, bukan karena pesanan. Dengan begitu, mereka akan berdaya dan mengatasi masalahnya,” tegas Puspita Andiyani. (*)

Pos terkait